PERINGATAN: Artikel ini adalah artikel berita, informasi dalam artikel ini sedikit sensitif dan TIDAK UNTUK DITIRU!
Peringatan Redaksi: Berita ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Kamu merasa memiliki pemikiran yang tidak mengenakkan, jangan ragu untuk segera hubungi psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat.

sikoracerestia.com - NGADA, NTT Peristiwa memilukan mengguncang masyarakat di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar berinisial YBR (10) ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di sebuah perkebunan di Kecamatan Jerebu, Pulau Flores, pada Kamis (29/1/26). Kepergian bocah yang masih di bawah umur ini meninggalkan duka mendalam, terlebih dengan ditemukannya sepucuk surat terakhir yang ditujukan kepada orang tuanya.

Penemuan jasad korban bermula ketika warga dan keluarga mendapati YBR telah meninggal dunia di kebun milik neneknya. Pihak kepolisian dan warga setempat segera melakukan evakuasi setelah kejadian tersebut diketahui. Insiden ini sontak menjadi perhatian luas mengingat usia korban yang masih sangat belia. Berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas mengamankan sejumlah barang bukti yang berada di sekitar lokasi kejadian termasuk sebuah surat untuk Ibunya.

Salah satu fakta yang paling menyayat hati dalam peristiwa ini adalah ditemukannya secarik surat yang ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya dalam bahasa daerah. Surat tersebut berisi pesan singkat namun penuh kesedihan yang ditujukan kepada sang ibu. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, dugaan awal pemicu tindakan nekat ini berkaitan dengan keinginan korban mengenai perlengkapan sekolah yang belum terpenuhi, namun pihak berwenang masih terus mendalami motif serta kronologi lengkap peristiwa ini.

Bersumber dari media sosial, surat itu berbunyi sebagai berikut jika diartikan:
"Surat untuk Mama Reti. Mama saya pamit pergi. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama saya pergi. Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama."

Kasus yang menimpa YBR ini menjadi tamparan keras bagi banyak pihak, baik pemerintah, institusi pendidikan, maupun masyarakat luas mengenai pentingnya kepekaan terhadap kondisi mental dan kebutuhan dasar anak-anak. Peristiwa di Ngada ini diharapkan menjadi pengingat bagi lingkungan sekitar untuk lebih memperhatikan kesejahteraan anak, baik secara fisik maupun psikologis, agar tragedi serupa tidak terulang kembali di masa depan.