sikoracerestia.com - Peristiwa memilukan yang baru-baru mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar berita duka biasa. Kepergian seorang siswa sekolah dasar berusia sepuluh tahun dengan cara yang sangat tragis adalah tamparan keras bagi wajah pendidikan, pola asuh, dan kepedulian sosial di negeri ini. Ketika selembar surat berisi pesan terakhir ditulis oleh tangan mungil yang seharusnya sibuk memegang mainan atau buku cerita, hal tersebut menandakan adanya kegagalan dalam melindungi jiwa-jiwa muda dari beban kehidupan yang belum saatnya mereka pikul. Tragedi ini memaksa seluruh lapisan masyarakat untuk berhenti sejenak dan mengakui bahwa anak-anak Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Peringatan Redaksi: Berita dan artikel ini mengandung konten terkait depresi dan bunuh diri. Jika pembaca atau kerabat mengalami gejala depresi atau pemikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi profesional kesehatan mental, psikolog, atau psikiater terdekat.
Layanan Konseling:
-
Layanan Darurat 119
-
Into The Light Indonesia intothelightid.org
Sering kali masyarakat terjebak dalam stigma lama bahwa masa kanak-kanak adalah periode emas yang bebas dari masalah pelik. Anggapan umum bahwa "anak kecil tidak tahu apa-apa..." atau "tidak punya beban pikiran berat..." justru menjadi bumerang yang mematikan. Kasus di Ngada membuka mata banyak pihak bahwa tekanan psikologis tidak mengenal batasan usia. Ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan sekolah seperti buku dan pena bagi orang dewasa mungkin terlihat sebagai masalah logistik sederhana yang bisa dicarikan solusi nanti. Namun, bagi seorang anak dengan sensibilitas tinggi, hal itu bisa bermanifestasi menjadi rasa malu yang akut, ketakutan akan penghakiman lingkungan, hingga rasa putus asa yang begitu dalam karena merasa menjadi beban bagi keluarga.
Masalah kesehatan mental anak di Indonesia, terutama di daerah pelosok, memiliki irisan yang sangat tebal dengan kondisi ekonomi keluarga. Kemiskinan struktural sering kali memaksa anak untuk dewasa sebelum waktunya. Mereka memiliki radar emosional yang sangat peka, mereka menyerap kecemasan orang tua, merasakan ketimpangan dengan teman sebaya, dan sering kali memendam keinginan sederhana karena takut menambah beban orang tua. Dalam situasi di Ngada, terlihat jelas bagaimana tekanan dapat meruntuhkan pertahanan mental seorang bocah. Sayangnya, sistem pendukung seperti konseling psikologis di tingkat sekolah dasar atau edukasi kesehatan mental bagi orang tua di daerah terpencil masih sangat minim, bahkan nyaris tidak ada.
Pelajaran terbesar dari kejadian ini adalah pentingnya kepekaan lingkungan sekitar terhadap perubahan perilaku anak. Sering kali, tanda-tanda depresi pada anak tidak terlihat seperti kesedihan orang dewasa yang murung. Pada anak, depresi bisa berwujud penarikan diri, kemarahan yang meledak-ledak, atau justru menjadi sangat pendiam. Menciptakan ruang aman di rumah dan sekolah adalah kunci pertolongan pertama. Anak harus merasa bahwa emosi mereka baik itu sedih, kecewa, atau takut adalah hal yang valid dan boleh didiskusikan. Menghakimi anak yang sedang bersedih dengan kalimat "...jangan cengeng!" tanpa mendengarkan keluh kesah mereka hanya akan membuat mereka menutup diri dan mencari jalan keluar yang salah.
Jangan sampai ada lagi surat-surat terakhir yang ditulis oleh anak-anak Indonesia hanya karena mereka merasa dunia ini terlalu berat untuk dihadapi sendirian. Tragedi di Ngada adalah duka yang harus dibayar dengan perbaikan nyata dalam cara masyarakat memandang kesehatan mental anak. Melindungi fisik mereka dengan sandang dan pangan adalah kewajiban, namun menjaga kewarasan, harapan, dan kebahagiaan batin mereka adalah tanggung jawab kemanusiaan yang tidak bisa ditunda lagi. Sudah saatnya kesehatan mental masuk dalam prioritas utama pendidikan dan pengasuhan, agar setiap anak di Indonesia yakin bahwa hidup mereka berharga.