UAS Bahasa Indonesia - Kota Kupang tidak hanya dikenal sebagai Gerbang Kasih di beranda selatan Indonesia, tetapi juga sebagai kota yang menyimpan memori kolonial yang amat panjang. Di jantung kawasan Kota Lama, berdiri sebuah bangunan yang menjadi jangkar sejarah spiritual dan sosial masyarakat Timor Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Kota Kupang. Dikenal sebagai gereja Protestan tertua di kota ini, rumah ibadah tersebut bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu yang telah melewati dinamika zaman selama hampir empat abad, mulai dari era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) hingga kemerdekaan Indonesia.

Dari Benteng Concordia hingga Pemukiman Kolonial

Jejak berdirinya gereja ini tidak bisa dilepaskan dari kedatangan Belanda di Kupang pada awal abad ke-17. Setelah Belanda merebut kekuasaan dari Portugis dan membangun Benteng Concordia pada tahun 1653 sebelumnya merupakan pos pertahanan sejak 1614, kebutuhan akan tempat peribadatan bagi para pegawai VOC dan tentara Belanda menjadi prioritas. Gereja ini pada mulanya dibangun sangat dekat dengan kompleks benteng untuk melayani kebutuhan rohani para Predikant atau pendeta Belanda yang dikirim dari Batavia sekarang Jakarta. Dalam catatan sejarah, kehadiran institusi gereja di Kupang telah tercatat sejak pertengahan 1600-an, menjadikannya salah satu titik penyebaran agama Kristen tertua di wilayah Indonesia Timur.

Arsitektur dan Transformasi Zaman

Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran untuk menampung jemaat yang terus bertumbuh, GMIT Kota Kupang tetap mempertahankan aura kolonialnya. Terletak di lokasi strategis yang berdekatan dengan pelabuhan lama dan sisa-sisa reruntuhan benteng, gereja ini merepresentasikan arsitektur gereja Protestan klasik yang fungsional namun megah. Di masa lalu, lonceng gereja ini tidak hanya berfungsi sebagai pemanggil ibadah, tetapi juga sebagai penanda waktu bagi warga di kawasan Kota Lama. Transformasi dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) hingga menjadi bagian dari kemandirian Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) pada tahun 1947 adalah babak penting yang menegaskan peran gereja ini dalam identitas lokal masyarakat NTT terlebih Kota Kupang. Saat ini (2025) gereja ini telah direnovasi atau dipugar dengan tembok yang telah dilapisi gipsum agar terlihat bagus dan arsitekturnya terlindungi.

Saksi Bisu Empat Abad Peradaban Kupang

Menyebut gereja ini sebagai "Saksi 4 Abad" bukan hanya sebuah hiperbola. Gereja ini telah melewati masa-masa kelam perang kolonial, pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang, hingga masa pergolakan pascakemerdekaan. Bagi warga Kupang, gereja ini adalah simbol ketahanan iman dan pusat interaksi sosial. Di sekitar gereja inilah denyut nadi ekonomi Kota Kupang bermula, dengan pemukiman warga dari berbagai etnis yang hidup berdampingan. Kehadiran GMIT Kota Kupang membuktikan bahwa sejarah sebuah kota seringkali tertulis di dinding-dinding tempat ibadahnya, mencerminkan bagaimana budaya lokal berakulturasi dengan pengaruh global yang dibawa lewat jalur maritim.

Menjadi Pusat Wisata Religi dan Sejarah

Kini, GMIT Jemaat Kota Kupang telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya yang dilindungi. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kupang, mengunjungi gereja ini memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana nilai-nilai religius membentuk karakter masyarakat Timor yang ramah dan toleran. Menjaga kelestarian gereja ini berarti menjaga ingatan kolektif tentang asal-usul Kota Kupang. Sebagai warisan luhur, gereja ini tetap berdiri tegak, memancarkan pesan perdamaian dan harapan bagi generasi mendatang, sebagaimana ia telah melakukannya selama ratusan tahun yang lalu.

Sumber: Penelusuran Langsung Penulis

Referensi: https://sinodegmit.or.id/sejarah-gmit/Gereja GMIT Jemaat Kota Kupang, Gereja Tertua Jadi Saksi Bisu Sejarah dari Berbagai Masahttps://www.scribd.com/document/400852333/Jemaat-Kota-Kupang-Adalah-Jemaat-Tua-Dalam-GMIT-Yang-Bertumbuh