sikoracerestia.com - Coba perhatikan papan tombol/keyboard di HP, rambu lalu lintas di jalan raya, hingga kode pemrograman yang membangun internet. Ada satu kesamaan yang sangat mencolok di sana yaitu penggunaan huruf Latin. Dari ujung barat Amerika hingga ujung Asia Tenggara, karakter A hingga Z telah menjadi jembatan komunikasi yang paling universal. Bahkan negara-negara yang memiliki aksara tradisionalnya sendiri yang sangat kuat, seperti Tiongkok dengan Hanzi atau Jepang dengan Kanji, tetap mewajibkan penggunaan huruf Latin sebagai pendamping dalam sistem pendidikan dan teknologi mereka. Fenomena ini bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan hasil dari perjalanan panjang sejarah yang melibatkan penaklukan militer, penyebaran agama, hingga revolusi teknologi.
Baca Juga: Moltbook Ketika Artificial Intelligence Memiliki Jejaring Sosialnya Sendiri untuk Bergosip
Akar dari dominasi ini bermula ribuan tahun lalu di semenanjung Italia. Bangsa Romawi Kuno, dengan kekuatan militernya yang masif, tidak hanya menaklukkan wilayah daratan Eropa tetapi juga mewariskan bahasa dan sistem tulisan mereka, yakni Latin. Ketika Kekaisaran Romawi runtuh, aksara ini tidak ikut mati. Justru, aksara Latin menemukan kendaraan baru melalui penyebaran Kristen di Eropa. Gereja Katolik menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa liturgi dan administrasi, menjadikan kemampuan membaca dan menulis huruf ini sebagai standar kaum terpelajar di seluruh benua Eropa selama berabad-abad. Inilah fondasi awal yang membuat aksara Latin tertanam kuat di kebudayaan Barat sebelum akhirnya berlayar ke belahan dunia lain.
Faktor terbesar yang melambungkan huruf Latin menjadi aksara global adalah era kolonialisme Eropa yang dimulai pada abad ke-15. Bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris, Spanyol, Portugis, Prancis, dan Belanda berlomba-lomba menguasai wilayah baru di Amerika, Afrika, Asia, dan Oseania. Para penjajah ini tidak hanya membawa komoditas dagang, tetapi juga sistem administrasi dan pendidikan yang berbasis pada aksara Latin. Di banyak wilayah jajahan, bahasa-bahasa lokal yang sebelumnya tidak memiliki sistem tulisan atau menggunakan aksara tradisional yang rumit, kemudian ditranskripsikan ke dalam huruf Latin oleh para misionaris dan pemerintah kolonial untuk memudahkan pencatatan sensus dan penyebaran ajaran agama. Proses ini secara efektif menggeser penggunaan aksara lokal, seperti yang terjadi di Indonesia di mana Aksara Jawi dan Hanacaraka perlahan tergantikan oleh huruf Latin.
Ketika dunia memasuki era Revolusi Industri, mesin cetak memegang peranan vital. Aksara Latin yang terdiri dari set karakter yang relatif sedikit dan sederhana dibandingkan dengan ribuan karakter logogram Cina, terbukti jauh lebih efisien dan murah untuk dicetak secara massal. Keunggulan teknis ini berlanjut hingga ditemukannya mesin ketik dan telegraf. Desain mekanis mesin-mesin awal ini sangat dioptimalkan untuk alfabet Latin. Negara-negara yang ingin berpartisipasi dalam perdagangan global dan pertukaran informasi cepat mau tidak mau harus mengadopsi sistem tulisan ini agar kompatibel dengan teknologi yang ada.
Paku terakhir yang mengukuhkan hegemoni huruf Latin adalah lahirnya komputer dan internet. Teknologi komputasi modern dikembangkan sebagian besar di Amerika Serikat dan Inggris, yang secara otomatis menjadikan alfabet Latin sebagai basis kode dasar (ASCII). Pada masa-masa awal komputasi, sistem operasi dan bahasa pemrograman tidak mampu memproses aksara non-Latin. Meskipun teknologi sekarang sudah mendukung Unicode yang bisa menampilkan hampir semua aksara di dunia, struktur dasar internet mulai dari nama domain URL hingga papan ketik QWERTY tetap berakar kuat pada huruf Latin. Hal ini memaksa seluruh penduduk dunia digital untuk menguasai setidaknya dasar-dasar alfabet ini agar dapat berselancar di dunia maya.
Dominasi huruf Latin saat ini adalah bukti nyata bagaimana kekuatan politik masa lalu dan efisiensi teknologi masa kini saling berkait. Bukan semata-mata karena aksara ini lebih superior secara estetika, melainkan karena sejarah menempatkannya sebagai alat utama dalam setiap lompatan besar peradaban manusia, mulai dari ekspansi Romawi, kolonialisme, hingga revolusi digital. Kini, huruf Latin telah bertransformasi dari sekadar tulisan bangsa Romawi menjadi kode universal yang memungkinkan manusia dari berbagai latar belakang bahasa untuk saling terhubung dalam satu ekosistem global.